Kami menolak setiap tindakan yang mengabaikan kemanusiaan
Kami tidak akan menjadi buta, tuli, bisu dan mengingkari akal
Gaza dan “keadilan” Israel yang semu
Apa yang harus dikecam? Apa yang harus dipahami? Apa yang harus dikedepankan? … Apa realitas di Palestina?
Baru-baru ini, The World Christian Student (Mahasiswa Kristen
Seluruh Dunia) mengadakan program antar-regional bertajuk Mengatasi
Kekerasan di Timur Tengah dan mengunjungi Palestina untuk “datang dan
melihat” lebih banyak akan realitas yang terjadi di sana.
Diselenggarakan oleh gerakan mahasiswa Kristen di Palestina dan Gerakan
Pemuda Ekumene Palestina (PYEM - Palestinian Youth Ecumenical Movement),
kami berbagi visi demi perdamaian, keadilan, serta komitmen untuk
bekerja dengan orang Muslim, Yahudi, saudara dan saudari di wilayah
tersebut serta seluruh pihak yang berkomitmen pada perdamaian dunia dan
kemanusiaan bagi orang-orang Palestina dan Israel.
Kami tak dapat berdiam diri atas peningkatan kekerasan yang
terjadi di Gaza. Menjadi keharusan bagi kami untuk bergabung dengan
Dewan Gereja se-Dunia serta lainnya untuk mengutuk kekerasan yang
dilakukan oleh pemerintah Israel. Kami mengungkapkan keprihatinan yang
mendalam terhadap hidup, martabat dan kemanusiaan dari rakyat Palestina
dan Israel. Kami akan membawakan situasi di Palestina kedalam sidang
Majelis Umum kami untuk merumuskan kebijakan yang lebih spesifik.
Latar Belakang
Antara tanggal 12-30 Juni 2014, tiga pemuda Israel diculik dan dibunuh di Halhoul, Tepi Barat.
Pada Selasa 1 Juli setelah mendapat konfirmasi dari Polisi
Israel atas pembunuhan pemuda Israel itu, seorang pemuda Palestina
diculik, disiksa, disiram dengan bensin serta dipaksa meminumnya lalu
dibakar hidup-hidup oleh sekelompok orang Israel sebagai aksi balas
dendam.
Kejadian-kejadian yang mengerikan tersebut adalah tanggungjawab polisi yang bertugas.
Beberapa hari kemudian, sebuah kelompok yang menyatakan diri
sebagai bagian dari ISIS (kelompok yang baru memproklamirkan diri
sebagai Negara Islam di Irak dan Suriah) di Palestina menyatakan diri
bertanggung jawab atas pembunuhan.
Pemerintah Israel tanpa memiliki bukti dan terlanjur menyatakan
bahwa pihak yang bertanggung jawab adalah kelompok Hamas, menyatakan
bahwa mereka akan menghukum semua orang yang bertanggung jawab.
Pertanyaan Kami
Ada berbagai pertanyaan dalam benak kami atas apa yang tengah terjadi.
Bagaimana mungkin untuk menuduh bahwa Hamas bertanggung jawab
jika penyelidikan penuh belum dilakukan atau diselesaikan? Apakah
pemerintah Israel mengambil keputusan politik di tengah penyelidikan
oleh polisi terhadap pembunuhan tersebut?
Jika Hamas bertanggung jawab, mengapa mereka tidak menyatakan
secara terbuka bahwa mereka bertanggung jawab atas penculikan dan
pembunuhan tiga pemuda Israel seperti aksi-aksi sebelumnya yang telah
dilakukan militan Hamas?
Sebulan lalu, Otoritas Palestina menandatangani perjanjian
dengan Hamas untuk mempemersatukan bangsa Palestina. Satu-satunya
pemerintah yang menentang hal itu adalah Israel. Pada bulan Mei mereka
menanggapinya dengan menahan uang pajak yang harus dibayar kepada
Otoritas Palestina dan mereka sekali lagi berhenti partisipasi dalam
proses perdamaian yang dimediasi Amerika Serikat. Apakah tindakan
pemerintah Israel ini mencerminkan keinginan atas perdamaian atau justru
usaha untuk melanjutkan penguasaan atas Palestina?
Dalam situasi normal, polisi kedua negara harus bekerja sama
untuk menemukan pembunuh. Namun, dalam situasi berat sebelah antara
pihak yang menjajah dan dijajah, apakah kolaborasi tersebut
memungkinkan?
Bagaimana menjelaskan bahwa operasi pengeboman (drone,
rudal, serangan udara) telah menewaskan sedikitnya 233 orang dan
melukai lebih dari 1530 warga Palestina? Bagaimana pembantaian begitu
banyak orang, serta penghancuran rumah dan tanahnya dapat dibenarkan?
Apakah semua orang Palestina tersebut adalah pelaku pembunuhan tiga
pemuda israel sebelumnya?
Mengapa pasukan Israel menyerang dan menargetkan infrastruktur sipil Palestina?
Siapa yang ingin menghancurkan harapan dan martabat penduduk
Palestina ini? Bagaimana membandingkan kekuatan ekstrem yang diterapkan
oleh pemerintah Israel dengan pembelaan Hamas? Bisakah kita memahami
situasi ini akan mendorong orang Palestina menjadi nekat dan putus asa?
Mengapa pemerintah Israel tidak menghormati resolusi PBB dan
hukum internasional? Jika ini tidak digunakan sebagai dasar untuk
penyelesaian damai, lalu apa? Apakah kita harus menerima hukum rimba “law of the strongest”?
Mengapa dunia duduk tak berdaya dalam menghadapi kekerasan,
korban jiwa, dan penyerangan terhadap prinsip-prinsip hukum, keadilan,
dan peradaban?
Pada 17 Juli 2014 anak-anak sedang bermain sepak bola di pantai
dan dibunuh oleh rudal Israel. Berdasarkan pemantauan wartawan Inggris,
serangan pertama ketika kapal perang Israel melintas dan 3 lainnya
setelah anak-anak mulai melarikan diri. Setidaknya 5 orang lain
mengalami luka-luka. Kami bertanya lagi, apakah anak-anak muda yang
bermain di pantai itu bersalah atas pembunuhan ketiga pemuda Israel?
Lalu, apa tujuan sebenarnya dari serangan berkelanjutan Israel tersebut?
Apakah semua ini bukan suatu sinyal terjadinya sebuah genosida?
Panggilan dan Komitmen Kami
Para siswa dalam gerakan mahasiswa Kristen di Palestina dan
atas panggilan akan tugas pelayanan Gerakan Mahasiswa Kristen se-Dunia
(WSCF - World Student Christian Federation)
demi penghentian kekerasan oleh pemerintah Israel menyatakan komitmen
untuk bergabung dengan semua orang yang cinta damai dan mencari
kedamaian sejati yang berkeadilan di wilayah tersebut.
Kami mendorong mereka yang terjebak di tengah pertikaian tiada
henti kedua partai (Fatah dan Hamas) untuk menolak “siklus pembalasan
demi pembalasan” yang terus memacu kekerasan di wilayah itu. Yang
menjadi korban adalah warga sipil yang banyak di antaranya adalah
anak-anak.
Sejarah telah mengajarkan bahwa kekerasan hanya menyebabkan
kematian dan kehancuran. Pembalasan selalu berbuah pahit, dan mendorong
harapan bagi perdamaian menjadi semakin jauh. Kami mendesak semua pihak
untuk menghentikan siklus kekerasan dan duduk bersama di jalan damai,
bukan balas dendam.
Siklus kekerasan dan ketidakadilan harus dihentikan demi
membuka kemungkinan baru bagi perdamaian dan kemakmuran bangsa Palestina
dan Israel.
Doa kami
…ditulis di atas selembar kertas di dekat tubuh seorang anak
yang tewas di Ravensbrück dimana 92,000 perempuan dan anak-anak
meninggal pada tahun 1945:
Ya Tuhan,
ingatlah bukan hanya para pria dan wanita yang berkehendak baik,
tetapi juga mereka yang berkehendak buruk.
Tapi jangan ingat penderitaan yang mereka berikan kepada kami,
ingatlah buah atas berkat dari penderitaan ini,
persahabatan kami, kesetiaan kami, kerendahan hati kami,
keberanian, kemurahan hati,
kebesaran hati yang telah tumbuh keluar dari semua ini.
Dan ketika mereka datang ke pengadilan
biarkan semua buah atas berkat yang kami tanggung
menjadi pengampunan bagi mereka.
AMIN AMIN AMIN
Christine Housel, Sekretaris Jenderal
Horacio Mesones, Ketua
18 Juli 2014
*diterjemahkan dari sumber asli http://wscf-europe.org/prayer-and-solidarity/solidarity-statement/worsening-situation-gaza/