SEARCH

Monday, 21 July 2014

Meneropong Konflik Palestina Israel

pengantar

Operation Protective Edge, kode operasi militer israel atas gaza, palestina. memasuki babak baru, kini operasi darat sudah di jalankan. kabarnya israel mempersiapkan 40000 pasukan terlatih demi sebuah operasi yang secara ironi disebut “protektive edge”. judulnya tak seindah apa yang terjadi di lapangan. protektive? berikut kutipan dari antara news pada laporannya hari minggu (20/07/14).

“…Jerusalem - Militer Israel menyatakan sedang memperluas serangan darat ke Jalur Gaza pada Minggu, saat konflik paling berdarah sejak tahun 2009 itu memasuki hari ke-13 dan menewaskan lebih dari 350 warga Palestina.”

apa yang terjadi sebenarnya? otoritas palestina (PLO) pun pemerintah israel punya “alibi” yang sama. bahwa hamas-lah kelompok yang patut dipersalahkan. tak bisa dipungkiri, upaya terorisme yang digencarkan kelompok hamas, tak hanya merugikan rakyat palestina dalam upaya perjuangan kedaulatannya. rupa-rupanya, tindakan hamas menjadi bahan bakar bagi sentimen antiarab di sebagian kalangan konservatif israel. dgn menggiringnya menjadi isu nasionalisme sempit, pemerintah israel mendapat motif tambahan dari agenda yang mereka tetapkan utk perluasan kekuasaan atas tanah palestina.

bagaimanapun, dgn kekuatan propaganda media arus utama, semakin banyak pandangan yang menyederkahakan persoalan sebenarnya, bahwa ada 1,5 juta rakyat gaza dan 3 juta di tepi barat sedang mengalami sebuah penindasan di tanahnya sendiri yang lebih pantas disebut “penjara terbesar di dunia”.

konflik Panjang tak Berkesudahan

menelusuri akar konflik israel palestina memang cukup panjang dan kompleks. sejarah mencatat beberapa kerajaan dan bangsa pernah menguasai wilayah tersebut silih berganti. sampailah pada zaman modern dimana muncul ide bagi bangsa yahudi untuk mendirikan satu negara bangsa yang aman bagi mereka, israel yang berdaulat di tanah palestina yang diyakini sebagai tanah perjanjian bagi mereka pada kongres zionisme I (1897). munculnya keinginan tersebut tak terlepas dari penindasan dan ketidakadilan yang bangsa yahudi alami pula selama berdiaspora ke berbagai negeri.
tanah palestina tak pernah sepi. disana telah hidup bangsa yang telah beradab dan maju yang memiliki corak kehidupan bertani dan berdagang serta memiliki hubungan dagang internasional. pada 1878, populasi penduduk di palestina yaitu mencapai 462.465 jiwa dimana 96,8% merupakan orang arab yang beragama islam dan kristen dan 3,2% orang yahudi. (sumber: dokumenter occupation 101 menurut benni and hajjar, www.merip.org).

sebagai tindak lanjut dari pendirian negara bangsa pada ideologi zionisme tersebut, pada tahun 1882-1914 imigrasi pertama orang yahudi dari eropa ke palestina berjumlah 65000 jiwa (sumber: dokumenter occupation 101 menurut  www.palestineremembered.com). imigrasi tersebut semakin gencar setelah Deklarasi Balfour di Inggris di akhir perang dunia 1 tahun 1917. mereka memandang, inilah realisasi tanah perjanjian yang dicita-citakan bagi orang yahudi.

1922, populasi di palestina berjumlah 757182 jiwa dimana 87,6% merupakan orang arab islam dan kristen dan 11% orang yahudi. (sumber: dokumenter occupation 101 menurut british sensus of mandatory palestine). meningkatnya jumlah yahudi dan atas dukungan inggris yang menjajah wilayah tersebut, mulailah muncul bentrokan-bentrokan antara warga palestina dan yahudi yang ada di sana dan berkembang terus hingga kini.

periode 1920-1931, populasi yahudi terus bertambah. berdasarkan british sensus of mandatory palestine, pada tahun 1931 orang yahudi sudah mencapai 16,9% sementara orang arab muslim dan kristen 81,6%. masa itu pula di jerman, hitler meraih kekuasaannya melalui kepemimpinannya di partai NAZI. maka pada 1932-1936, 174000 orang yahudi bertambah pindah menuju palestina. dan tahun 1937-1945, bertambah lagi sejumlah 119800. (sumber: dokumenter occupation 101 menurut british government, palestine royal comission report dan www.rememberedpalestine.com). kebijakan genosida oleh Hitler terhadap yahudi di jerman dan eropa semakin menggencarkan niatan pembentukan negara israel di palestina.

demikian, situasi di palestina semakin tidak terkendali. konflik terus bermunculan antara orang palestina dengan yahudi yang datang ke wilayah tersebut. tahun 1947, inggris yang menguasai menyerahkan persoalan di palestina kepada perserikatan bangsa-bangsa. dari sanalah muncul solusi dua negara dimana ada negara arab dan negara yahudi. anehnya, 43% luas wilayah justru diberikan kepada orang arab yang berjumlah lebih besar yaitu 69% yang sejatinya pemilik tanah tersebut. sementara 56% wilayah diberikan kepada imigran israel yang hanya 31% dari populasi keseluruhan.

kekuatan yang tidak seimbang

palestina setidaknya dianggap tanah suci bagi 3 agama besar yaitu kristen, yahudi dan islam. di sana terdapat tembok ratapan bagi yudaisme, gereja makam kristus bagi orang kristen dan masjidil aqsha di jerusalem yang menjadi kota suci ketiga bagi umat islam. ketika israel memproklamirkan kemerdekaannya 14 mei 1948, solusi dua negara masih menjadi perdebatan sengit namun israel mengklaim wilayahnya yang lebih luas lagi. deklarasi kemerdekaan tersebut secara sepihak mendapat pertentangan keras dari negara-negara kawasan dan lebih lagi bagi orang arab di palestina.

dimulailah perseteruan secara sistematis dengan kehadiran negara israel di tempat tersebut. dengan dukungan yang kuat dari negara-negara barat, militer israel terus memperkuat dirinya dalam merebut wilayah-wilayah yang masih diduduki orang arab palestina. perang arab israel pada tahun 1948 tak bisa dihindari. negara-negara arab yang memperjuangkan palestina atas nama arab yaitu libanon, suriah, yordania, mesir dan irak. namun, dengan kekuatan yang dimiliki, israel berhasil menguasai sebagian besar wilayah tersebut. setahun kemudian 1949, tercapai kesepakatan gencatan senjata antara negara-negara tersebut. konflik kembali pecah setelah itu setelah kesepakatan sebelumnya selalu diingkari oleh salah satu pihak.

kemunculan hamas sebagai organisasi perjuangan yang mengatasnamakan islam di palestina dan perjuangan pembebasan nasional palestina seperti PLO, Fatah menjadikan beragam faksi dan kepentingan pula atas tanah palestina. masih ada faksi kepentingan lain di palestina dengan coraknya masing-masing. hamas yang merupakan kelanjutan dari ikhwanul muslimin seperti di mesir kerap menggunakan perlawanan-perlawanan radikal yang bersifat teror terhadap israel bahkan mengirimkan roket-roket dan bom bunuh diri terhadap rakyat sipil israel. pun dengan israel dengan kekuatan imperialis eropa yang mendukungnya, menjadikan negara tersebut adidaya di kawasan dengan memanfaatkan berbagai dalih untuk memperluas kepentingannya. demikian kutipan dari militanindonesia.org

“…Zionisme terbukti telah memperoleh dukungan sistematis dari negara-negara Barat. Amerika Serikat memberikan dana sekitar 5 triliun dolar AS per tahun, Inggris memberikan bantuan dalam peralatan militer, dan Uni Eropa memberikan akses terhadap opini yang dibentuk oleh Israel ke publik dunia bahwa sumber konflik antara Israel dan Palestina adalah gerakan ‘teroris’ Palestina. (Sumber: hasil konferensi “Against Zionism: Jewish Perspectives” pada tanggal  2 Juli 2006 di Inggris). Dari sini jelas bahwa Zionisme merupakan bagian dari strategi imperialisme global.”

dengan kekuatan penuh, israel menduduki hampir sebagian besar palestina. penduduk arab semakin terhimpit di jalur gaza dan tepi barat dengan pengawasan yang ketat oleh tentara israel. sejarah mencatat sedemikian banyaknya kekerasan yang digunakan selama sejarah panjang pendudukan israel atas palestina tersebut. berbagai penghancuran rumah-rumah penduduk palestina dilakukan, penyerangan oleh tentara, penguasaan tanah dan sumber daya alam, dan serangan-serangan terhadap perlawanan palestina yang mereka sebut sebagai terorisme. pada akhirnya, dengan berbagai cara dan propaganda, israel mendirikan pemukiman-pemukiman sipil bagi rakyatnya dan mengusir bahkan membunuh rakyat arab palestina yang ada di wilayah tersebut dengan berbagai provokasi dan serangan yang tidak seimbang dan brutal.

tindakan hamas menjadi pembenaran penjajahan atas palestina?

berbagai kesepakatan gencatan senjata yang berujung pada kegagalan mengindikasikan selalu ada ketidakpuasan antar berbagai pihak yang berseteru. peta politik di israel dan palestina tidak dapat dipandang secara hitam dan putih. otoritas palestina PLO dibawah pemerintahan fatah yang mengusai tepi barat memiliki motif dan perjuangan yang berbeda dengan kelompok hamas yang ada di jalur gaza. situasi yang berkepanjangan tersebut menjadikan rakyat palestina mulai tidak mempercayai pemimpinnya untuk membawa mereka keluar dari penjajahan yang ada. malah, keduanya terlibat persaingan dan intrik politik semata. rakyat palestina tetap menderita atas ulah pemimpinnya sendiri terlebih atas berbagai upaya israel yang terus menyerang dan memperluas pemukiman bagi mereka.
perlawanan hamas yang bersifat teror terhadap warga sipil israel harus dikecam. tindakan tersebut tidak akan pernah membawa kedamaian terhadap masyarat palestina secara keseluruhan. malah dengan pongah, serangan tersebut menjadi alasan bagi israel untuk seolah melindungi diri namun sebenarnya sedang melakukan upaya agar masuk lebih dalam dan menguasai wilayah-wilayah palestina lebih lagi dalam kerangkan imperialism yang mereka lakukan.

alan woods, seorang tokoh politik internasional menuliskan sebagai berikut.

“…Perlawanan heroik rakyat Palestina membentang dalam beberapa dekade ke belakang. Kemenangan akhir, bagaimanapun, tidak akan dicapai oleh beberapa roket yang ditembakkan oleh Hamas. Sejarah massa Palestina memiliki saat-saatnya ketika perjuangan mereka berdampak bahkan di dalam Israel sendiri. Satu saat tersebut adalah Intifada pertama, dimana massa meletus melawan pendudukan. Perjuangan massa tersebut adalah apa yang dibutuhkan saat ini. Apa yang menambah kekuatan bagi rakyat Palestina adalah situasi baru yang telah muncul sejak revolusi di Mesir dan Tunisia pada tahun 2011. Kekacauan di dunia Arab telah menjadikan revolusi sebagai agenda perjuangan. Krisis kapitalisme dunia adalah akar penyebab dari gejolak revolusioner ini dan ini bahkan telah mempengaruhi masyarakat Israel, dengan gerakan-gerakan besar yang telah kita lihat di sana juga.”

pendudukan israel atas palestina haruslah dihentikan sekarang juga. solidaritas masyarakat internasional harus dicapai untuk mendukung terciptanya perdamaian dengan terbentuknya negara palestina yang berdaulat secara adil dan sejahtera atas tanahnya sendiri sesuai dengan visi shalom allah akan dunia.(*)

*disampaikan sebagai pengantar diskusi dan doa bersama GMKI Cabang Semarang pada tanggal 21 juli 2014, mengenai konflik yang terjadi di Palestina.
 

Pernyataan WSCF (World Student Christian Federation) atas memburuknya situasi di Gaza

Kami menolak setiap tindakan yang mengabaikan kemanusiaan
Kami tidak akan menjadi buta, tuli, bisu dan mengingkari akal
Gaza dan “keadilan” Israel yang semu

Apa yang harus dikecam? Apa yang harus dipahami? Apa yang harus dikedepankan? … Apa realitas di Palestina?

Baru-baru ini, The World Christian Student (Mahasiswa Kristen Seluruh Dunia) mengadakan program antar-regional bertajuk Mengatasi Kekerasan di Timur Tengah dan mengunjungi Palestina untuk “datang dan melihat” lebih banyak akan realitas yang terjadi di sana. Diselenggarakan oleh gerakan mahasiswa Kristen di Palestina dan Gerakan Pemuda Ekumene Palestina (PYEM - Palestinian Youth Ecumenical Movement), kami berbagi visi demi perdamaian, keadilan, serta komitmen untuk bekerja dengan orang Muslim, Yahudi, saudara dan saudari di wilayah tersebut serta seluruh pihak yang berkomitmen pada perdamaian dunia dan kemanusiaan bagi orang-orang Palestina dan Israel.

Kami tak dapat berdiam diri atas peningkatan kekerasan yang terjadi di Gaza. Menjadi keharusan bagi kami untuk bergabung dengan Dewan Gereja se-Dunia serta lainnya untuk mengutuk kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah Israel. Kami mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terhadap hidup, martabat dan kemanusiaan dari rakyat Palestina dan Israel. Kami akan membawakan situasi di Palestina kedalam sidang Majelis Umum kami untuk merumuskan kebijakan yang lebih spesifik.

Latar Belakang

Antara tanggal 12-30 Juni 2014, tiga pemuda Israel diculik dan dibunuh di Halhoul, Tepi Barat.

Pada Selasa 1 Juli setelah mendapat konfirmasi dari Polisi Israel atas pembunuhan pemuda Israel itu, seorang pemuda Palestina diculik, disiksa, disiram dengan bensin serta dipaksa meminumnya lalu dibakar hidup-hidup oleh sekelompok orang Israel sebagai aksi balas dendam.

Kejadian-kejadian yang mengerikan tersebut adalah tanggungjawab polisi yang bertugas.

Beberapa hari kemudian, sebuah kelompok yang menyatakan diri sebagai bagian dari ISIS (kelompok yang baru memproklamirkan diri sebagai Negara Islam di Irak dan Suriah) di Palestina menyatakan diri bertanggung jawab atas pembunuhan.

Pemerintah Israel tanpa memiliki bukti dan terlanjur menyatakan bahwa pihak yang bertanggung jawab adalah kelompok Hamas, menyatakan bahwa mereka akan menghukum semua orang yang bertanggung jawab.

Pertanyaan Kami

Ada berbagai pertanyaan dalam benak kami atas apa yang tengah terjadi.

Bagaimana mungkin untuk menuduh bahwa Hamas bertanggung jawab jika penyelidikan penuh belum dilakukan atau diselesaikan? Apakah pemerintah Israel mengambil keputusan politik di tengah penyelidikan oleh polisi terhadap pembunuhan tersebut?

Jika Hamas bertanggung jawab, mengapa mereka tidak menyatakan secara terbuka bahwa mereka bertanggung jawab atas penculikan dan pembunuhan tiga pemuda Israel seperti aksi-aksi sebelumnya yang telah dilakukan militan Hamas?

Sebulan lalu, Otoritas Palestina menandatangani perjanjian dengan Hamas untuk mempemersatukan bangsa Palestina. Satu-satunya pemerintah yang menentang hal itu adalah Israel. Pada bulan Mei mereka menanggapinya dengan menahan uang pajak yang harus dibayar kepada Otoritas Palestina dan mereka sekali lagi berhenti partisipasi dalam proses perdamaian yang dimediasi Amerika Serikat. Apakah tindakan pemerintah Israel ini mencerminkan keinginan atas perdamaian atau justru usaha untuk melanjutkan penguasaan atas Palestina?

Dalam situasi normal, polisi kedua negara harus bekerja sama untuk menemukan pembunuh. Namun, dalam situasi berat sebelah antara pihak yang menjajah dan dijajah, apakah kolaborasi tersebut memungkinkan?

Bagaimana menjelaskan bahwa operasi pengeboman (drone, rudal, serangan udara) telah menewaskan sedikitnya 233 orang dan melukai lebih dari 1530 warga Palestina? Bagaimana pembantaian begitu banyak orang, serta penghancuran rumah dan tanahnya dapat dibenarkan? Apakah semua orang Palestina tersebut adalah pelaku pembunuhan tiga pemuda israel sebelumnya?

Mengapa pasukan Israel menyerang dan menargetkan infrastruktur sipil Palestina?

Siapa yang ingin menghancurkan harapan dan martabat penduduk Palestina ini? Bagaimana membandingkan kekuatan ekstrem yang diterapkan oleh pemerintah Israel dengan pembelaan Hamas? Bisakah kita memahami situasi ini akan mendorong orang Palestina menjadi nekat dan putus asa?

Mengapa pemerintah Israel tidak menghormati resolusi PBB dan hukum internasional? Jika ini tidak digunakan sebagai dasar untuk penyelesaian damai, lalu apa? Apakah kita harus menerima hukum rimba “law of the strongest”?

Mengapa dunia duduk tak berdaya dalam menghadapi kekerasan, korban jiwa, dan penyerangan terhadap prinsip-prinsip hukum, keadilan, dan peradaban?

Pada 17 Juli 2014 anak-anak sedang bermain sepak bola di pantai dan dibunuh oleh rudal Israel. Berdasarkan pemantauan wartawan Inggris, serangan pertama ketika kapal perang Israel melintas dan 3 lainnya setelah anak-anak mulai melarikan diri. Setidaknya 5 orang lain mengalami luka-luka. Kami bertanya lagi, apakah anak-anak muda yang bermain di pantai itu bersalah atas pembunuhan ketiga pemuda Israel? Lalu, apa tujuan sebenarnya dari serangan berkelanjutan Israel tersebut?

Apakah semua ini bukan suatu sinyal terjadinya sebuah genosida?

Panggilan dan Komitmen Kami

Para siswa dalam gerakan mahasiswa Kristen di Palestina dan atas panggilan akan tugas pelayanan Gerakan Mahasiswa Kristen se-Dunia (WSCF - World Student Christian Federation) demi penghentian kekerasan oleh pemerintah Israel menyatakan komitmen untuk bergabung dengan semua orang yang cinta damai dan mencari kedamaian sejati yang berkeadilan di wilayah tersebut.

Kami mendorong mereka yang terjebak di tengah pertikaian tiada henti kedua partai (Fatah dan Hamas) untuk menolak “siklus pembalasan demi pembalasan” yang terus memacu kekerasan di wilayah itu. Yang menjadi korban adalah warga sipil yang banyak di antaranya adalah anak-anak.

Sejarah telah mengajarkan bahwa kekerasan hanya menyebabkan kematian dan kehancuran. Pembalasan selalu berbuah pahit, dan mendorong harapan bagi perdamaian menjadi semakin jauh. Kami mendesak semua pihak untuk menghentikan siklus kekerasan dan duduk bersama di jalan damai, bukan balas dendam.

Siklus kekerasan dan ketidakadilan harus dihentikan demi membuka kemungkinan baru bagi perdamaian dan kemakmuran bangsa Palestina dan Israel.

Doa kami

…ditulis di atas selembar kertas di dekat tubuh seorang anak yang tewas di Ravensbrück dimana 92,000 perempuan dan anak-anak meninggal pada tahun 1945:
Ya Tuhan,
ingatlah bukan hanya para pria dan wanita yang berkehendak baik,
tetapi juga mereka yang berkehendak buruk.
Tapi jangan ingat penderitaan yang mereka berikan kepada kami,
ingatlah buah atas berkat dari penderitaan ini,
persahabatan kami, kesetiaan kami, kerendahan hati kami,
keberanian, kemurahan hati,
kebesaran hati yang telah tumbuh keluar dari semua ini.
Dan ketika mereka datang ke pengadilan
biarkan semua buah atas berkat yang kami tanggung
menjadi pengampunan bagi mereka.
AMIN AMIN AMIN
Christine Housel, Sekretaris Jenderal Horacio Mesones, Ketua
18 Juli 2014

*diterjemahkan dari sumber asli  http://wscf-europe.org/prayer-and-solidarity/solidarity-statement/worsening-situation-gaza/