SEARCH

Saturday, 8 February 2014

Sentuhan Baru Nasionalisme dan Oikumenisme

Semarang, GMKI - BPC GMKI Semarang mengadakan diskusi seminar mengenai Oikumenisme dan Nasionalisme pada Desember (15/12/2013) setelah dua hari sebelumnya mengadakan Masa Perkenalan Anggota GMKI Semarang. Adapun maper tersebut melantik sebanyak 12 orang anggota baru GMKI Semarang. Hadir sebagai pembicara dalam seminar adalah Bung Pdt. Rudiyanto, MTh -seorang dosen dari STT Abdiel, Ungaran. 

Dalam kesempatan tersebut, Bung Rudianto -demikian pendeta yang bersahaja tersebut kerap disapa, mengawali paparannya dengan mengutip Mazmur 122 yang merupakan nyanyian ziarah Daud mengenai doa sejahtera untuk Jerusalem. Mazmur tersebut berbicara mengenai kekeramatan sebuah kota bagi Yahudi pada masanya. Relevansinya adalah bagaimana signifikansi kota bagi situasi umat dan bangsa. Berdasarkan mazmur tersebut disimpulkan ada tiga hal yaitu keamanan (ayat 3), persatuan berdasarkan konsensus (ayat 4) dan keadilan serta supremasi hukum (ayat 5). 

Dan kemudian muncullah retorika yang mempertanyakan apakah ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan atau dapat berdiri sendiri? Dalam konteks mazmur, lanjutnya, tentulah keamanan, persatuan dan keadilan tersebut terwujud berdasarkan interpretasi “kepentingan rezim” dinasti Daud. Pertanyaan reflektif yang timbul kemudian adalah bagaimana dengan Indonesia.

Sentuhan “Baru” 

Melalui tulisannya yang berjudul Gerakan Ekumene dan Nasionalisme, ia mencoba menganalisis dan menjawab pertanyaan reflektif tersebut. Nasionalisme kaum muda terpelajar Kristen kiranya dibangun tidak lagi menggunakan sudut pandang borjuasi-penguasa yang secara historis melatarbelakangi perjalanan nasionalisme bangsa Indonesia. Nasionalisme Indonesia harus ditempatkan pada posisinya yang sebenarnya yaitu perspektif kerakyatan yang mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan seluruh rakyat tanpa pandang bulu. 

Dengan cara yang sama, gerakan oikumene dengan sentuhan Keesaan Tubuh Kristus, dipahami dalam rangka perwujudan kasih dan solidaritas yang mempertemukan semua pihak yang berkomitmen untuk mengakhiri penindasan dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Kegiatan yang dihadiri setidaknya 30 peserta yang merupakan anggota GMKI Semarang tersebut berlangsung penuh antusiasme. Kemudian dilanjut dengan diskusi kebangsaan yang dibawakan oleh Ketua Bidang Politik Dalam Negeri Kesbangpol dan Linmas, Jawa Tengah yang juga senior GMKI Semarang Charles Dae Pane. 

Makalah dapat diunduh disini.