SEARCH

Monday, 26 December 2011

Serenada Natal


Aku ingin nyanyikan lagu
Buat orang-orang yang tertindas
Hidup di alam bebas
Dengan jiwa yang terpapas
Dengan jiwa yang terpapas

Kenapa harus takut pada matahari
Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya
Kenapa harus takut pada malam hari
Nyalakan api dalam hati,
usiri segala kelamnya

Aku ingin nyanyikan lagu
Bagi kaum-kaum yang terbuang
Kehilangan semangat juang
Terlena dalam mimpi panjang,
di tengah hidup yang bimbang

Di lorong-lorong jalan, di kolong-kolong jembatan
Di kaki-kaki lima, di bawah menara
Kau masih mendekam derita
Kau masih mendekam derita

Aku ingin nyanyikan lagu
Tanpa kemiskinan dan kemunafikan
Tanpa air mata dan kesengsaraan
Agar dapat melihat surga,
agar dapat melihat surga


Jika Yesus hidup di masa kini, lirik lagu Serenada ini pastilah akan menjadi lagu favoritnya bukan lagu rohani popular yang sering dengan heboh kita bawakan dalam kebaktian (-setidaknya demikianlah menurut penulis, haha..). Betapa tidak, itulah cita-cita Yesus akan dunia yang didambanya, surga tanpa kemiskinan, tanpa kemunafikan, tanpa air mata dan tanpa kesengsaraan. Dalam kisah perjalanan hidup Yesus, pergaulan dan intisari pelayanannya adalah  ‘melulu’ menyasar pada lingkungan orang miskin dan tertindas.

Dan di penghujung tahun 2011 ini, Natal kembali  menyapa kita umatnya. Sejujurnya, bukan perayaan-lah yang semata kita nantikan, melainkan sudah sejauh mana perwujudan cita-cita yesus pada kehidupan saat ini. Kata kunci dalam perayaan Natal, kelahiran Yesus, adalah “pengharapan” tiap manusia akan kemerdekaan, kebebasan dan kebahagiaan  manusia dari kemiskinan, penindasan dan kesewenangan.

Baru ini Indonesia kembali dikejutkan oleh seorang Sondang Hutagalung yang dengan kekuatan tekadnya akhirnya membakar diri tepat di depan Istana Negara. Sungguh tragis, diluar nalar manusia normal apa yang dilakukan Sondang, teman, yang akhirnya meninggal dunia karena aksinya itu. Seantero nusantara membicarakan Sondang, mulai dari mencibir tindakannya sampai menghormati keputusan serta keyakinannya. Kita ada di posisi apa?

Siapakah Sondang Hutagalung? Mengapa saya menghubungkannya dengan Natal, ketertindasan, kemiskinan, air mata, dan kesengsaraan? Patut kita ingat, seorang Yesus juga adalah orang yang mati di kala ia masih dipandang cukup muda. Secara nalar dan logika manusia normal, Yesus bisa saja menghindar dari hukuman salib jika seandainya ia ‘urung’ menyuarakan ajaran kasih dan kemanusiaannya. Tetapi, Yesus punya pilihan lain dan berpegang teguh pada ajaran kasih yang diyakininya, karena itulah kebenaran. Secara politis, ajaran Yesus dicibir oleh orang-orang disekelilingnya walau tak sedikit yang mengagumi bahkan memuja Yesus. Dan pada akhirnya, mereka terganggu pun memilih untuk menyalibkan Yesus sehingga ia meninggal di kayu salib.

Saya pribadi sangat tidak menganjurkan tindakan bakar diri untuk dilakukan karena bertentangan dengan nurani kemanusiaan yang saya yakini. Hanya saja, biarlah kematian Sondang menjadi momentum bahwa pernah ada seorang Sondang Hutagalung yang sedang frustasi akibat abainya institusi yang seharusnya menjamin hak asasi manusia yaitu Negara. Biar bagaimana apa yang disuarakan oleh Sondang tak boleh menjadi sia-sia bahkan harus turut kita perjuangkan, sesuai juga dengan ajaran cinta kasih dan kemanusiaan yang diteladankan oleh Yesus, Sang Pejuang Kemanusiaan dan Keadilan. Dengan demikian nyatalah makna dari Natal, kelahiran Sang Pendiri Gereja itu sebagai sebuah lahirnya harapan baru. Harapan bagi kaum miskin papa dan teraniaya, harapan bagi keadilan dan kesejahteraan bisa dihadirkan di bumi tercinta. Natal harusnya dihadirkan untuk itu, untuk perwujudan misi Yesus lahir ke dunia yang begitu dicintainya.

Pada akhirnya, kita berkata “Selamat jalan sobat, Sondang Hutagalung! Selamat datang Yesus, Sang Kepala Gerakan kasih manusia di bumi!.” Mari kita renungkan hari Natal, bukan pesta pora, bukan untuk kepuasan jemaat gereja, bukan untuk ajang pertunjukan kemewahan dunia dan apalagi hanya untuk membahagiakan mereka yang duduk di kursi terdepan pada acara pesta natal. Jauh lebih dalam, kita wujudkan Yesus yang hadir untuk para pemilik Surga! Amin.

-tanpa kemiskinan dan kemunafikan; tanpa air mata dan kesengsaraan; agar dapat melihat surga-

Wednesday, 16 February 2011

Siapa Suruh tak Menutup Pintu. #pengakuan -bagian 2-

Saya curiga. Jangan-jangan ibu muda itu masih mengenang kejadian diantara kami berdua tadi pagi. Sungguh tak sengaja. Baiklah akan saya ceritakan.

Pukul 7.00 pagi tadi saya memandikan adik saya yg sedang cedera pada kakinya. Kira-kira 30 menit kami di dlm kmr mandi. Oh ya, kami memang berada di ruang perawatan patah tulang. Walau sebenarnya kaki adik saya tidak patah namun saya sendiri bingung menjelaskan kondisi sebenarnya. Si dukun bilang, mata kaki yang pecah. Tetapi orangtua saya tak setuju pendapat itu, berlebihan menurutnya.

Nah, saat adik sedang asyik bermandi ria. Saya sempat keluar kamar mandi, handuk ketinggalan. Ternyata, sudah ada antrian. Karenanya saya berpikir,baiklah saya harus mengejar waktu.

Harap dicatat, jika pintu kmr mandi / lebih tepatnya halaman mandi itu tdk saya tutup, mka org bisa masuk tanpa sengaja. Kelihatanlah.. Dan karena inilah cerita ini bermula. Setengah jam stelah saya memandikan adik, saya kembali ke kamar atau lebih tepatnya halaman mandi itu. Pintu halaman mandi terbuka. Tanpa ragu saya melangkah masuk. Eh!!

Si ibu muda yang mengantri tadi sedang jongkok. Kupandang kebawah, pahanya lumayan mulus. Refleksku tidak menghindar tapi menjelajah dgn mata.

Itulah saya. Sambil tersenyum saya undur diri. Si ibu muda hanya bilang, eh!! Dlm hati, saya memohon maaf. Ini kejadian sungguh diluar kehendak saya..

Judulnya, salah siapa gak nutup pintu kamar/halaman mandi?? Dan kesan, saya menikmati dan sedikit rasa bersalah.

Siang ini, 2 kali bertemu muka dgn nya. Saya hanya tertunduk malu. Tp dia menantang. #pengakuanku jilid 2. :)

-sekian-

Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com